Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan, menjadi perhatian setelah muncul spekulasi mengenai kemungkinan terbentuknya gunung api baru atau yang disebut sebagai “cucu” Krakatau.
Dosen Teknologi Geologi Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Happy Christin Natalia, menjelaskan bahwa berdasarkan perspektif geologi, daratan tersebut lebih memungkinkan terbentuk dari akumulasi material hasil erupsi Gunung Anak Krakatau. Material vulkanik yang terlontar atau longsor ke laut kemudian dapat terbawa dan mengendap mengikuti arus.
Menurut Happy, belum terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan adanya saluran magma atau struktur gunung api baru pada lokasi daratan tersebut. Karena itu, penyebutan “cucu Krakatau” masih merupakan istilah yang berkembang sebagai spekulasi di masyarakat.
Meski demikian, bentuk dan luas daratan baru tersebut masih dapat mengalami perubahan. Jika aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau terus berlangsung, material vulkanik yang kembali terendapkan dapat menyebabkan daratan semakin luas.
Untuk memastikan proses pembentukannya, diperlukan penelitian lebih lanjut melalui kajian lapangan terhadap struktur, material penyusun, serta kondisi geologi di sekitar daratan baru tersebut.