Tanah Datar – Gunung Marapi di Sumatera Barat kembali mengalami erupsi pada Kamis (1/10/2026) pukul 10.00 WIB. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 19,5 milimeter dan berlangsung sekitar 27 detik.
Petugas Pos Pengamatan Gunungapi (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi, mengatakan tinggi kolom abu dari erupsi tersebut belum dapat diamati. Gunung Marapi saat ini masih berstatus Level II atau Waspada.
Erupsi pada 1 Oktober menjadi aktivitas letusan ketiga Gunung Marapi dalam sepekan. Sebelumnya, erupsi terjadi pada 26 September dengan amplitudo maksimum 30 milimeter dan durasi sekitar 1 menit 19 detik. Kemudian pada 29 September, erupsi tercatat dengan amplitudo maksimum 25,9 milimeter dan berlangsung sekitar 42 detik.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat erupsi atau Kawah Verbeek. Pendaki, pengunjung, dan wisatawan juga diminta mematuhi rekomendasi tersebut.
Warga yang tinggal di sekitar lembah, aliran, serta bantaran sungai yang berhulu di Gunung Marapi diminta mewaspadai potensi lahar, terutama saat hujan. Material vulkanik di sekitar puncak dapat terbawa aliran air melalui sungai yang berhulu di kawasan gunung.
Jika terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker serta melindungi mata dan kulit. Sumber air bersih juga perlu diamankan, sementara abu vulkanik yang menumpuk di atap rumah sebaiknya segera dibersihkan untuk mengurangi beban bangunan.
Pemerintah daerah di Kota Bukittinggi, Padang Panjang, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Agam diminta terus berkoordinasi dengan PVMBG. Masyarakat dapat memantau informasi terbaru aktivitas Gunung Marapi melalui Pos PGA Marapi, aplikasi MAGMA Indonesia, dan kanal resmi Badan Geologi.