Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional dari hulu hingga hilir. Pengembangan tersebut mencakup pengolahan bahan baku, manufaktur sel dan battery pack, industri komponen, produksi kendaraan listrik, pasar domestik, hingga daur ulang baterai.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan penguatan ekosistem diarahkan untuk memperkuat basis manufaktur sekaligus meningkatkan nilai tambah dan keterkaitan dengan rantai pasok dalam negeri. Kehadiran produsen seperti BYD diharapkan turut memperbesar keterlibatan industri komponen dan pemasok lokal.
Pemerintah juga mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap. Dalam peta jalan KBLBB, TKDN ditetapkan minimal 40 persen hingga 2026 dan meningkat menjadi 60 persen pada 2027-2029.
Kemenperin akan merancang skema insentif berbasis TKDN bersama kementerian dan lembaga terkait. Insentif tersebut diharapkan mendorong produsen meningkatkan penggunaan komponen domestik sekaligus menarik pemasok global untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia.
Pasar kendaraan listrik nasional juga terus berkembang. Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik mencapai sekitar 486 ribu unit. Pada semester I 2026, penjualan BEV mencapai sekitar 70 ribu unit dengan pangsa pasar 16 persen, sedangkan HEV sekitar 40.400 unit dengan pangsa hampir 10 persen.
Penguatan ekosistem kendaraan listrik diharapkan memberikan dampak luas terhadap industri nasional, mulai dari peningkatan nilai tambah dan penciptaan lapangan kerja hingga penguasaan teknologi, pengembangan SDM, serta peningkatan ekspor.