Harga emas dunia bergerak fluktuatif sepanjang pekan lalu, berada di kisaran USD 5.000 hingga USD 5.240 per ons. Kenaikan harga terjadi hingga Selasa pagi, kemudian melemah secara bertahap hingga Jumat di tengah kekhawatiran investor mengenai potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah.
Survei mingguan Kitco News menunjukkan pandangan pelaku pasar Wall Street masih terbelah, dengan enam analis (40%) memperkirakan emas menguat, enam lainnya (40%) memperkirakan penurunan, dan tiga analis (20%) menilai pergerakan relatif seimbang. Sementara itu, jajak pendapat daring terhadap 270 investor ritel menunjukkan mayoritas (63%) tetap optimistis harga emas naik.
Ahli strategi pasar senior di Forex.com, James Stanley, menilai harga emas akan kembali naik karena logam mulia bertahan di angka USD 5.000 di pasar spot, menunjukkan penerimaan pasar yang kuat. Namun, Rich Checkan dari Asset Strategies International memperkirakan potensi penurunan harga jangka pendek menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu mendatang.
Adrian Day dari Adrian Day Asset Management menekankan faktor moneter tetap menjadi pendorong utama harga emas, meski dinamika geopolitik dapat memicu fluktuasi sementara.
Agenda pekan ini mencakup sejumlah keputusan suku bunga dari bank sentral utama dunia, serta data ekonomi AS seperti kondisi manufaktur, pasar perumahan, dan inflasi produsen, yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan harga emas global.
Dikutip dari liputan6.com