Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (27/10/2025). Menurut Bloomberg, rupiah ditutup turun 0,11 persen atau 19 poin menjadi Rp16.621 per dolar AS.
Pergerakan nilai tukar rupiah dipengaruhi dinamika global. Terutama rencana pertemuan Presiden AS, Donald Trump, dengan Presiden Tiongkok, Xi Jinping, untuk membahas tarif dagang yang baru.
Menteri Keuangan (Menkeu) AS, Scott Bessent, mengatakan pejabat kedua negara telah menyusun kerangka kerja untuk pertemuan tersebut. “Ini akan menghindari tarif AS 100 persen atas barang-barang Tiongkok,” kata analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi.
Kerangka kerja itu juga akan membahas penangguhan kontrol ekspor logam tanah jarang oleh Tiongkok. “Presiden Trump merasa optimistis dapat mencapai kesepakatan perdagangan dengan Beijing dan berharap pertemuan dilakukan di Tiongkok dan AS,” ujar Ibrahim.
Pergerakan nilai tukar rupiah juga dipengaruhi oleh semakin menguatnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed. Harapan pasar meningkat setelah tingkat inflasi AS lebih rendah dari perkiraan.
Indeks Harga Konsumen (IHK) di AS pada September 2025 naik 0,3 persen yang dinilai cukup moderat. Sedangkan inflasi secara tahunan (year on year) di AS tercatat sebesar 3 persen.
“Pelaku pasar kini fokus pada keputusan sejumlah bank sentral yang akan diumumkan minggu ini,” kata Ibrahim. Termasuk bank sentral AS, The Fed, yang akan mengumumkan kebijakan suku bunganya pada Kamis (30/10/2025).
Di dalam negeri, pelaku pasar mencermati prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk triwulan III dan triwulan IV 2025. Sejumlah ekonom memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh 4,9 persen pada triwulan III 2025.
Sedangkan untuk kuartal IV 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi lagi karena faktor musiman. Misalnya belanja pemerintah yang biasanya masif di kuartal terakhir, penyaluran saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah, dan paket stimulus.