Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (6/10/2026). Namun, penguatan tersebut diperkirakan belum bertahan sepanjang perdagangan karena rupiah masih menghadapi tekanan dari sentimen global.
Rupiah naik 6 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.911 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya sebesar Rp17.917 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara (BWS) Rully Nova memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah sepanjang perdagangan. Rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp17.960 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah antara lain berasal dari kenaikan yield obligasi pemerintah AS yang tercatat 5,31 persen serta indeks dolar AS yang berada di level 102,12. Kondisi tersebut dapat membuat aset berbasis dolar lebih menarik bagi investor dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mulai berkurang seiring melemahnya data tenaga kerja AS. Berdasarkan survei, probabilitas suku bunga The Fed tetap pada pertemuan FOMC Oktober 2026 mencapai 80 persen.
Untuk pertemuan FOMC Desember 2026, probabilitas kenaikan suku bunga tercatat sebesar 69 persen.
Dari dalam negeri, investor juga mencermati lelang obligasi pemerintah Indonesia yang berlangsung pada Selasa. Rully menilai surat utang Indonesia masih menawarkan imbal hasil yang menarik karena selisih bunga dengan obligasi pemerintah AS relatif lebar.
Meski demikian, risiko pasar meningkat, salah satunya tercermin dari Credit Default Swap (CDS) lima tahun yang berada di level 95,69.
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Selasa diperkirakan akan dipengaruhi oleh perkembangan yield obligasi AS, indeks dolar, ekspektasi kebijakan The Fed, serta respons investor terhadap lelang surat utang pemerintah Indonesia.